Saya adalah seorang amatir pendatang baru dalam dunia tulis-menulis.
Novel yang bertajuk ‘REBELOSERZ (Kesatuan Pecundang Tangguh)’ adalah novel debut yang baru saja saya selesaikan. (belum masuk ke penerbit :)).
Sebuah novel perdana yang ber-genre komedi-cinta.
Mau liat cuplikannya?
(berikan pendapat, saran + kritik… makasih)
Silahkan dicopy dulu atau langsung dibaca… heheu 😀

Sinopsis ‘REBELOSERZ [Aliansi Pecundang Tangguh]’

Sekelompok anak muda yang tengah ‘mencari identitas’-nya. Sepak terjang tujuh pecundang di seputar kostannya, yang tertatih-tatih menggapai cita-cinta mereka.

Tobi, mantan anak band yang jika tidur senantiasa memakai daster ibunya. Juki, seorang lelaki sejati gagah berani dan hobi berkelahi yang sehari-hari menyelipkan bahasa banci. Abel, si playboy mesum. Kareem, sang ustadz calon penghuni surga. Widi, seorang polos yang bernyali ciut namun kaya raya. Prasetyo, sesepuh di kelompoknya yang juga seorang cenayang. Dan Sukirman, seniman nyentrik yang senang mengganja.

Sepaket lika-liku kisah asmara yang drama: sebongkah cinta yang terancam digagalkan oleh nyali; sejumput cinta lokasi yang diselingi baku hantam; cinta yang dipandang sebelah mata orang tua sang kekasih; cinta yang sebatas ta’aruf; cinta adalah seni yang absurd; cinta seorang buaya yang lihai dalam menaklukkan mangsanya…dan, cinta terlarang yang dilatarbelakangi perseteruan dengan Pak RT mereka, sebuah pertikaian yang memanas tiap harinya, gara-gara berawal dari pohon mangga. Iya, pohon mangga.

Di kostan kecil dan old school ini, demokrasi pun ditegakkan oleh penghuninya. Adalah ‘drum neraka’, ‘penjara’ yang senantiasa menjadi malapetaka bagi ‘penjahat’nya. Anggota kost akan dimasukkan ke dalam sebuah drum bekas ini jika melakukan kesalahan fatal.

Kebodohan, persahabatan dan warna-warni kisah asrama yang terjadi di kost-an vintage inipun terselip kisah dua sahabat yang penuh keharuan: Tobi dan Mbah Sontho, seorang nenek renta penjaja makanan.

Sampai akhirnya malapetaka menerjang kostan mereka.

 

“Sugeng Rawuh Ing Ngayogjokarto Hadiningrat!”

(Selamat Datang Di Yogyakarta)

 

 

Prolog

 

 

 

Jenderal Ulat Sagu

(*suara sang narator yang berat*)

Syahdan, disuatu waktu yang amat syahdu…

Beberapa tahun cahaya yang lalu…

Di jalur antar galaksi yang sunyi dan berbadai…

Sebuah pesawat kargo ruang angkasa pengangkut sampah-tanpa pilot-tengah berjuang menghindari bebatuan angkasa berbagai ukuran yang berseliweran didepannya.

Didalam perut pesawat usang super jumbo-yang berplat nomor L 053 R ini-ditengah tumpukan sampah-terdapat tujuh spesies makhluk yang merupakan bagian dari koloni sejenis ulat sagu.

Ketujuhnya adalah jenderal bintang lima berwajah bengis dari Planet Loserus, planet asal mereka.

Namun, status mereka sekarang adalah narapidana. Narapidana kelas kakap. Karena sebelumnya, mereka telah melakukan sebuah kejahatan besar, kejahatan yang tak terampuni. Adalah bersekongkol dan memimpin balatentara loyalnya dalam upaya melakukan misi kudeta terhadap Presiden. Akan tetapi, mereka gagal dan ditangkap.

Melalui keputusannya, Mahkamah Agung planet Loserus menghukum ketujuh tahanan ini dengan sebuah hukuman berat, yaitu diisolasi-tepatnya dibuang-ke sebuah planet tandus di galaksi jauh antah-berantah tiada penghuni. Yang kelak tak ada jalan keluar dan tak ada jalan untuk kembali, selamanya, selamanya, selamanya…(*echo*).

Tapi, tampaknya nasib tidak menghendaki demikian. Badai puting beliung kosmik yang ganas dan hantaman-hantaman meteorit telah mengakibatkan mesin pesawat rusak parah. Sistem navigasinya menjadi kacau.

Alhasil, pesawat mengalami guncangan hebat dan oleng. Autopilot-nya berbelok haluan, meluncur deras kebawah seakan mengikuti takdirnya, menuju ke sebuah planet…Bumi.

Badan pesawat bergesekan dengan atmosfir bumi, membentuk bola api raksasa di langit malam. Melesat cepat ke arah Indonesia.

**JLEBB**

Ujung pesawat menghujam tanah sebuah pekarangan luas disalah satu sudut Jogjakarta city.

**BLAMM**

Pesawat meledak dan hancur berkeping-keping. Seluruh isinya bercerai-berai. Sampah dimana-mana; ditanah, pohon-pohon dan atap-atap rumah.

-krik krik- (*suara jangkrik*)

Dewi Fortuna a.k.a Dewi nasib baik menghampiri ketujuh ulat planet ini, tumpukan sampah didalam pesawat yang menggunung (tak sengaja) melindungi mereka dari efek ledakan. Hanya luka-luka kecil, para jenderal ulat sagu ini pun selamat.

Singkat cerita, mereka pun beradaptasi dengan kondisi di Bumi dan bermutasi menjadi manusia serta menghuni sebuah kos-kosan.

1

 

 

(De Kingdom)

 

 

 

 

De Loser’s Empire

70 ribu rupiah perbulan!

Adalah sebuah harga yang (sangat) murah(an) ditengah-tengah tren harga kecambah keriting 100 ribu sekilo. Rekor dari The Guinness Book of World’s Records untuk kos-kosan ter’miring’ yang sampai sekarang belum terpecahkan. Bisa jadi, bisa jadi.

Kos-kosan tua yang menghadap ke timur ini sangat sepi dan wingit. Posisinya di belakang, diantara rerimbunan pohon dan jauh dari jalan kampung. Bangunannya sangat tua dan bertipe rumah pada zaman victorian-renaissance, khas rumah Eropa klasik. Disinyalir, bangunan ini sudah ada sejak zaman Ratu Victoria masih jomblo dulu.

Bangunan yang aura metafisikanya begitu kental. Separuh dindingnya berbatu-batu hitam gothica.

Rumah kos ini terdiri dari tujuh kamar, satu kamar mandi, satu kandang kambing dan tiga kandang ayam.

Kamar-kamarnya berhadapan di bawah satu atap.

Empat deret kiri:

-Kamar nomor 1: Tobi

-Kamar nomor 2: Sukirman

-Kamar nomor 3: Abel

-Kamar nomor 4: Widi

Empat deret kanan:

-Kamar nomor 5: Pras

-Kamar nomor 6: Juki

-Kamar nomor 7: Kareem

-Kamar mandi: semua penghuni

Eternitnya saja masih dibikin dari gedhek (anyaman bambu), berpelitur coklat muda. Di tengah deretan kamar ini ada ruang kosong potensial yang luasnya lumayan . Ruangan ini multifungsional. Terhampar sehelai karpet coklat tua lusuh yang ada bolong bekas setrika.

Sesuai dengan yang tertulis tangan pada papan kayu coklat kecil di atas pintu depannya, rumah kos ini oleh penghuninya biasa disapa ‘d’Camp’[1]. Nama lengkapnya: The Camp of United Moron Incorporated (The C.U.M.I.). Penghuni d’Camp untuk seterusnya sebut saja ‘d’Camp Official Crew’ atau d’Camp kru. Sok keren ya?[2]

F.Y.I, kos-kosan ini kalau dipantau dari satelit kebanggaan Indonesia: Telkom 2, terletak di Distrik Wirobrajan, Kelurahan Pakuncen-Yogyakarta. Koordinat tempat yang strategis sekali, tepat diantara pertigaan jalan kampung yang ramai dilewati manusia.

Aksesoris

Rumah induk semang.

Rumah ‘Emak’nya d’Camp. Persis di depan d’Camp. Dipisahkan oleh halaman kecil. Tipe bangunannya bercorak sama dengan anaknya, d’Camp.

Rumah ini dihuni oleh tiga orang: Bu Ginuk (Ibu Kos, status: menikah), Pak Gandhung (kakak Bu Ginuk, belum menikah), Mas Nyamin (adik Bu Ginuk, belum menikah). F.Y.I, rumah ini adalah sebagai transit saja bagi Bu Ginuk. Karena rumah beliau + suami adalah di Klaten. Bu Ginuk seorang pengajar di salah satu SMP di Jogja ini. Okesip. Sesuai namanya, Bu Ginuk ini berperawakan gemuk, tinggi sedang, penyuka warna merah muda, agak tegas, pemurah dan baik hati.

Sumur.

Disebelah kiri halaman depan d’Camp ada sebuah sumur tua sebagai instalasi vital untuk urusan perairan. ‘PDAM’-nya rumah induk dan d’Camp. Sepaket dengan menara penampung airnya yang berlumut.

            Dapur.

Dapurnya rumah induk berada pas di belakang sumur, tepat di sebelah kiri d’Camp, menyatu hanya dipisahkan oleh tembok.

Diseberang tembok sumur tua, berdiri sebuah rumah yang dihuni oleh Pak RT dan keluarga. Tepat menghadap ke sumur tua. Disebelah kiri rumah Pak RT-setelah melintasi sebidang lahan kosong a.k.a pekarangan-terdapat sebuah ‘rukontong’ (rumah toko kelontong)-nya sepasang kakek nenek yang hidup rukun dan bahagia, Mbah Ngadimin dan Mbah Ngadirah. Mereka serumah dengan putri semata wayang yang mempunyai putri semata wayang. Tante Diana. Si Mahmud Abas (Mamah Muda Anak Baru Satu) ini sangat menyita perhatian anak-anak d’Camp.

            Sebelah kanan rumah Pak RT tersebutlah kos-kosan putri dari aliran sufistic. Dihuni oleh sekumpulan wanita ahli surga yang berhijab lebar.

Pagar besi yang selalu dalam keadaan tertutup, mengesankan bahwa kos-kosan (baca: pesantren) tersebut adalah ‘restricted area’. Seakan-akan mengandung pesan: ”Pengamen dan Pemulung serta Bagi Yang Tidak Beriman, Tidak Suka Mengaji dan Tidak Menutup Auratnya, DILARANG MASUK! Titik!”

 

Lari Bersama Idola

Minggu pagi-pagi…

Enam anak muda personel d’Camp kru berjajar dengan gagah didepan kos-kosan, berpose ala mannequin butik. Sorot hangat mentari menyorot badan-badan (gagal) atletis itu. Angin pagi mengibarkan rambut-rambut. Handuk kecil dipundak-pundak.

*Mengendus*, “Itu dia! Kemon, gais (guys)!” kata Tobi bersemangat dan lari.

Lima kecebong gurun yang lain mengikuti Tobi, sang kapten. Turun ke jalan kampung.

Berlari secara sporadis dan Spartan namun mata tetap fokus ke objek, bagaikan pasukan Gurkha[3] yang mengintai musuhnya.

Tobi memimpin ‘pasukan’-nya ini adalah dalam rangka lari pagi. Terinspirasi pada semangat sebuah slogan: ‘Memasyarakatkan lari pagi, melari-pagikan masyarakat’.

Sebuah komando menghendaki mereka untuk berbaris dua-dua, tiga banjar. Menyanyikan mars tentara seperti ketika para tentara lari bersama. Mars tentara yang liriknya telah mereka ubah,

“Kami Anak Indonesiaaa…!” Tobi memandu.

“KAMI ANAK INDONESIAAA…!!” Juki, Widi, Abel, Sukirman dan Pras kompak mengikuti dengan semangat khas anak muda-nya.

“Sehat, Kuat dan Ceria…!”

“SEHAT, KUAT DAN CERIA…!!”

“Garuda Di Dadakuuuw…!”

“??????”

“GARUDA DI DADAKUUUW…!!”

“Hari Ini Pasti Menang…!”

“HARI INI PASTI MENANG…!!”

“Jaga jarak, teman-teman…” ujar Tobi.

“JAGA JARAK, TEM…Oh, udah tho paduan suarane?” kata Widi.

“……”

“Demi sempak Zeus, bodi kok indah beeettt (banget)…!” jakun Tobi menelan ludah-tak berkedip memandangi figur belakang Tante Diana. Lima yang lain pun demikian.

“Isshh, bener-bener kimplah-kimplah (bahenol) yaaahhh…” kata Pras sambil geleng-geleng-menggigit bibir bawahnya-memain-mainkan lidahnya dan tanpa sadar meremas bokong Juki dengan gemas.

Spontan, Juki berjingkat dan melotot.

“Singkirkan tangan kotor kau dari pantat aku, Pendosa!” kata Juki datar dan tegas.

“Ah, andai aja Emak gua bodinya kayak gitu…Hmmh, pasti ‘asyik’!” komen Abel dan menerawang.

Sukirman memegang jidat Abel, “Sakit.”

“Ckckck, grande partita,” gumam Widi geleng-geleng.

“Apa, Wid??” tanya Tobi.

“Bokongnya besar,” tukas Widi.

“Monyong! Grande partita artinya partai besar atau big match dalam sepakbola di Serie A,” jelas Tobi.

Widi manggut-manggut tanpa mengalihkan fokus ke pantat Tante Diana.

Tante Diana (30 tahun), mengenakan tanktop merah muda dan legging setinggi lutut warna hitam, bersolo lari pagi.

Tante Diana yang mantan seorang model, menjaga kebugaran dan keindahan tubuhnya dengan rutin berolahraga. Tante muda yang dibokongnya mengandung Kim Kardashian ini rajin ikut senam dan sekarang, (pastinya) lari pagi. Momen emas yang sangat berdosa jika dilewatkan oleh Tobi dan kawanannya.

Terhipnotis oleh bodi Tante Diana yang sangat colek-able[4] itu, d’Camp kru mimisan pelangi.

“Teman-teman, lihat…” mata Juki menunjuk ke sekeliling, heran.

Ternyata tidak bagi mereka saja, setiap inchi dari tubuh Tante Diana ini bagai medan magnet bagi mata pria normal manapun yang saat itu berada disekitarnya. Terbius oleh sapaan badan Tante Diana, apalagi ‘lambaian’ badan sang Tante saat berlari kini. Sedap sekali.

Lihat saja:

–          Seorang Kakek hiperaktif yang ikutan lari pagi, lupa mengenakan kostum olahraganya, memaksa berlari untuk mensejajari Tante Diana, kakinya terbelit sarung sendiri dan terjerembab jatuh. Giginya yang tinggal beberapa itu berhamburan.

–          Seorang suami yang kehilangan kopinya pagi ini. Istri yang cemburu menyiramkannya ke kepala si suami yang tengah memelototi bodi ranum sang Tante.

–          Seorang Bapak yang memfokuskan matanya ke Tante, tidak sadar telah menyeret-nyeret putri kecilnya yang diajaknya lari pagi. Sang Ibu berteriak-teriak mengejar dibelakangnya.

Kehidupan menjadi drama yang tidak begitu normal saat Tante Diana tampil dimuka umum, terlebih ketika lari pagi.

“Sial, apa-apaanlah mereka itu?!” komentar Abel menegaskan atas ketidaknormalan disekitar mereka ini.

Kemudian reaksi Tobi, “Prajurit, perimeter!”

Manuver cepat. Tobi-Abel di sisi kiri daripada Tante Diana, Widi-Juki di sisi kanan dan Sukirman-Pras di sektor belakang. Rapat.

“Huuu…” koor kekecewaan pria-pria penggemar Tante Diana itu, karena pandangan mereka ke Tante Diana terhalangi.

“Ok, aman.” ujar Tobi.

“Pagi, Tante Diana…!” serempak menyapa sang Tante.

“Pagi, adek-adek…Ehhh, jangan Tante dong ahhh, Mbak ajahhh…” sapa balik Mbak Diana dengan desahan-desahan seksinya.

Keenam bocah bergidik mendengar suara yang 18+ itu.

“Lari pagi, Mbak?” pertanyaan tidak bermutu Abel atas kejelasan apa yang telah terlihat, yang dijawab dengan,

“Mandi susuhhh, menurut kamuhhh?!” jawaban Mbak Diana agak galak, masih mendesah disertai dengan goyangan badan nan aduhai.

Kepala dan mata mereka mengikuti goyangan badan sang Tante. Dengkul mereka lemas seketika.

Tiba-tiba,

“Hahahaha…Ih, Mbak Diana orangnya banyolis[5] ahh…” Abel mencolek Mbak Diana, dan tertawa berlebihan.

“…MWUAHAHAHAAAAH…”

“Eh kancut, eh sempak!” Sukirman latah-kaget atas tertawanya Abel.

Satu-satu memperkenalkan diri ke Mbak Diana, masih sambil lari.

“Uhm, sebelumnya kami meminta maaf ke Mbak Diana, jika kami telah mengganggu perjalanan, ehm pelarian pagi dari Mbak Diana. Lihat pria-pria genit itu!…Ini adalah PSK atau Protokol Standar Keamanan untuk Mbak Diana, posisi kami akan berada didekat Mbak seperti ini. Sekali lagi, ini demi alasan keamanan…Jika Mbak Diana mengijinkan?” Tobi sopan dan tegas, persis seperti yang seorang jenderal dari sepasukan tentara katakan jika dihadapkan pada situasi yang sama.

“Hahaha…kalian lucu-lucu yahh?…boleh dehh…saya suka kalau lari pagi barengan rombongan Hansip ginihhh…”

‘Rombongan Hansip’ ini ber-tos dengan rekan sebelah masing-masing. Kegirangan.

Diam-diam Pras mengendus bau keringat Mbak Diana dengan khidmat sekali. Hidungnya mendekat ke ketiak Mbak Diana yang sangat Eva Arnaz itu. Ketiaknya harum, setidaknya itu menurut Pras.

Abel memotret Mbak Diana dari depan, samping dan belakang. Satu-satu meminta foto bareng Mbak Diana.

Lari pagi sambil mengobrol. Mereka cepat akrab.

Lost

Tiga setengah jam. Berputar-putar tak tentu arah. Tak terasa rute yang telah mereka tempuh sudah begitu jauh.

Istirahat. Menggerombol di bawah pohon pinggir jalan. Tobi cs yang baru tujuh hari ‘mendarat’ di Jogja, masih asing dengan daerah sini. Di saat mereka kebingungan dengan sekelilingnya, Mbak Diana men-stop taksi dan pamit pulang lebih dulu karena-katanya-harus menyusui si kecil di rumah.

Mereka membaca billboard didepan toko bangunan, dibagian bawahnya tertulis nama daerah…Maguwoharjo.

“Teman-teman, apakah kita tersasar?” tanya Pras setengah mewek.

Pertanyaan itu dijawab dengan reaksi berlebihan, saling peluk dan tangis-tangisan.

Guys, dimana kita?” tanya Abel.

Di tengah kebingungan dan kepanikan itu,

Dab[6], kita cari pantai.” terlontar ide Widi.

“Kau kira kita terdampar di pulau terpencil apa?! Trus, melambai-lambaikan bazu (baju) ke kapal yang lewat.” protes Juki terhadap ide Widi yang sangat ‘cast away’ (filmnya Tom Hanks) ini.

“Tuan-tuan, kita patungan yuk buat bayar taksi.” usul Tobi.

Yang lain menyepakati usul logis ini. Merogoh saku celana-celana.

“Sial! Aku tiada bawa dompet, lupa.” ujar Juki.

Ternyata yang lain juga tidak membawa uang, pun alat komunikasi. Kompak beralasan lupa. Terlalu bersemangat dalam tetek-bengek persiapan pra event ‘Lari Bareng Idola’ ini. Sehingga, kurang bisa berpikir tentang apa-apa yang seharusnya dibawa. Efek sindrom ‘MbakDianamatic’ level 3.

Mereka diam dan seolah-olah sedang berpikir. Mereka tetap tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan.

Pada situasi seperti ini, saling menyalahkan adalah hal yang tak terelakkan.

“Apa aku bilang, Bi! Andai aja kita tadi gak maksain untuk terus berlari dan berlari, gak akan kesasar kita.” Sukirman menyalahkan Tobi sebagai kapten.

“Tapi… Eh Juki, elu kan tadi yang manas-manasin bahwa jarak yang kita tempuh belum seberapa?!” Tobi ke Juki.

“Itu…Itu karena Widi mandi lebih dulu tadi sebelum zoging (jogging), makanya kita sial.” Juki ke Widi, mulai tidak relevan.

“Apa?!…Ndak akan jadi gini kalau saja kelakuan Abel ndak semesum itu.” tunjuk Widi ke Abel.

Abel yang dimaksud tengah jongkok-matanya tidak lepas dari pantat seorang gadis yang lewat didekatnya.

Tobi geleng-geleng kepala dan melihat arlojinya: pukul dua belas kurang seperempat.

Bertanya arah ke tukang becak. Arah barat, tunjuk si tukang becak. Tidak berani untuk lebih lanjut bertanya tentang jarak. Pertimbangan faktor psikologis. Takut kaget.

Padahal andai saja mereka tahu bahwa jarak antara daerah Maguwoharjo dan Wirobrajan adalah ± 15 km, setidaknya jika mereka pingsan itu adalah reaksi yang wajar.

Diputuskan pulang ke d’Camp dengan berjalan kaki, tidak ada pilihan lain.

Inisiatif yang munculpun ala kadarnya, seperti,

Mengacungkan jari, membentangkan kaos-kaos-seperti gaya seorang matador-ke mobil-mobil, kereta kuda dan gerobak sapi yang melintas di jalanan. Sejauh ini, sia-sia. Barangkali mengira hanya gerombolan gelandangan, tak satu pun dari alat-alat transportasi itu yang merespon.

Mengumpat ke mobil-mobil itu dan kepada teriknya sinar matahari. Keringat yang tadi sudah kering, kembali membanjir.

Bisa jadi, sengatan sinar matahari level 9 bikin otak di dalam kepala mereka jadi lumer. Sehingga, tidak secuil inisiatif yang paling sederhana sekalipun terlontar dari mereka, misalnya: men-stop angkutan umum ataupun taksi dan membayarnya begitu mereka sampai di d’Camp.

Ckckck…sekumpulan pemuda sehat tapi berotak undur-undur.

Enam pasang kaki melanjutkan perjalanan dengan lunglai. Capek dan lapar. Lemah, letih, lesu, bibir pecah-pecah. Terseok-seok seperti sepasukan tentara kalah perang yang berhari-hari tidak bertemu air dan makanan.

Pasrah dan berjalan terus ke arah barat.

Abel yang gemas dan putus asa, tiba-tiba memelorotkan celananya dan mengarahkan pantat berjerawatnya ke mobil-mobil itu.

………

Masjid mengumandangkan adzan maghrib.

Bagai rombongan tentara kalah perang yang pulang setelah berminggu-minggu tersasar di gurun maha luas, penampilan mereka compang-camping dan sangat berantakan. Jalan terhuyung-huyung seperti anak-anak zombie yang kehilangan induknya.

Dari keenam ‘zombie’ ini, Sukirman tampak paling menyeramkan, badan ceking dan rambut gimbalnya yang gondrong awut-awutan. Zombie yang sebenar-benarnya.

Baru saja melewati masjid Al Furqon, artinya sebentar lagi mereka akan sampai di d’Camp. Beberapa orang yang akan ke masjid dan memapas mereka, menepi ketakutan.

“Iuhh…!” seru mereka.

Kareem yang juga teman kos mereka yang absen ikut lari pagi, berjalan dari arah berlawanan, menuju masjid.

“Assalamu’alaikum, Kareem.” sapa suara serak mereka berbarengan.

“Wa’alaikumsalam, ASTAGFIRULLOH!” Kareem melompat kaget dan menjauh.

“Eh sempak, eh kutang!” latah Sukirman kaget karena teriakan Kareem.

“Kareem sombong, ndak kenal kita…” keluh Widi dengan suara sangat lemah.

“LIHAT DIRI KITA, WID! WAZAR ZIKA (wajar jika) DIA TAK KENAL!… Kampret ah…” Juki senewen dan protes. Juki berjalan cepat mendahului teman-temannya.

“Juki, kok kamu malah jadi lincah begitu?!” tanya Widi.

“Oh, sori lupa.” Juki kembali ke kondisi lemah, berjalan tertatih-tatih lagi.

Akhirnya, kawanan zombie itu sampai didepan pintu d’Camp.

Pingsan.

***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

 

 

(Pagi Yang Random)

 

 

 

 

The Spirit of The Youth of Today

07.07 am.

            Satria Sarutobi Leonheart Hendarman-(danger-o-meter:«««), nama Jepang yang diperolehnya dari ‘Japanese Name Generator’ di internet: Masahiro Saruwatari, artinya: ~’A Big Hero want to be A Monkey on A Crossing Bridge’ (terjemahan awamnya: Seorang Pahlawan Besar yang Ingin Menjadi Seekor Monyet di Sebuah Jembatan Penyeberangan)(???). Tobi baru melek dari tidurnya. Stretching sebentar, menggaruk sudut-sudut badan dan duduk di pinggir springbet wannabe a.k.a kasur gembelnya.

-klik-[7]

…………..

You should have known
The price of evil
And it hurts to know that you belong here
Yeah
No one to call
Everybody to fear
Your tragic fate
Is looking so clear
Yeah
Oooooooh
It’s your f*cking nightmare
HA! HA! HA! HA!
…………………..

Pagi tadi dia membangunkan yang lain untuk jamaah sholat Subuh di ruang tengah. Sehabis sholat Tobi tidur lagi.

Si Jack Black-laptopnya-adalah benda kedua[8] yang dipegangnya paska bangun tidur. Tiap bangun tidur, Tobi menyetel musik keras dengan keras-keras. Sebagai ‘mood booster’ baginya. Tobi adalah seorang penikmat musik yang fanatik, terutama untuk satu aliran musik yang ber-genre: rebel emo punk alternative lowerground holticultura[9].

Menuju dispenser, memencet tombol merah-memanaskan air bakal bikin kopi.

Kopi

F.Y.I, kopi dulunya cuma minuman penggembala kambing pada abad IX, (tahun 1000 sebelum Masehi), sekitar 3000 tahun yang lalu, di dataran tinggi Ethiopia. (Fakta)

Sejarahnya, kala itu ternak-ternak yang digembala kuat melek sepanjang malam setelah mengunyah daun dari pohon yang pendek. Penasaran, sang penggembala meneliti pohon itu dan ada buahnya bulat-bulat. Berharap rasanya semanis kurma Siberia, si penggembala mencicipi buahnya, namun tidak enak sama sekali.

Sang penggembala yang jeli dan kurang kerjaan ini, mengolah biji itu dan mengguyurnya dengan air panas dalam gelas. Diminum ternyata nikmat.

Begitulah sejarah singkat tentang kopi.

Catatan:

Sampai tulisan ini diturunkan, belum diketahui data biografi dan gambar jenis kelamin dari si penggembala tersebut.

Suara robotik dari dispenser-nya berteriak,

”-bibip- Masbroo, airnya sudah panas, silahkan![10]

Kopi di aduk.

Tobi keluar kamar, berdiri ditengah pintu kosnya, mata terpejam-hidungnya menyedot udara sebanyak mungkin untuk paru-parunya-menghembuskan lewat mulut. Pagi yang menyegarkan. Tobi duduk mengangkang di anak tangga. Menyeruput kopi. Kembali menggaruk sudut-sudut badannya seperti siamang kena cacar air.

Masih memakai daster gombrong milik ibunya yang biasa dipakainya tidur. Daster kesayangan. Sebagai obat kangen kepada Ibunya di rumah selama dia di Jogja. Selain itu menurut Tobi, dengan ber-daster cenderung lebih memudahkan mobilisasi sewaktu tidur.

Dulunya, Tobi adalah seorang anak yang tergolong (sangat) badung, acapkali mendapat marah ibunya karena dibuat jengkel atas ulah-ulahnya. Pernah suatu kali, ketika itu, ibunya sangat jengkel dan memarahi Tobi Kecil dengan nada tinggi,

DASAR TOBI, ANAK IBU YANG PALING CAKEP!!! Jangan nakal, Sayaangg!! Jangan diulangi lagi ya, Ganteengg!!

…Tobiii, anak Ibu yang paling baik, tolong Ibu ya Nak yaa, Tobi jangan nakal lagi! Tobi, Sayaaangg…Ibu senantiasa mendoakan supaya Tobi selalu berada di jalan-Nya, selalu dalam lindungan-Nya…dan kalau sudah gede nanti Tobi selalu mendapat rejeki yang melimpah…YA, NAK!!!” kata Ibunya Tobi yang mengawali dan mengakhiri nada  marahnya dengan menaikkan nadanya menjadi 8 oktaf itu.

Kemudian menangis sambil memeluk sang anak.

Yeah, marah-seorang Ibu kepada anaknya-yang rada unik. Ibunya Tobi memang dalam kondisi yang sangat marah pada waktu itu, karena kenakalan Tobi Kecil yang sudah keterlampauan. Namun, Ibunya Tobi adalah seorang Ibu yang penyabar, Ibu yang sayang kepada Tobi dan seorang Ibu yang bijaksana. Sehingga sang Ibu tidak begitu saja mengeluarkan kata-kata yang tidak semestinya kepada anaknya, walaupun dalam kondisi yang sangat dongkol dan sangat marah sekalipun.

Karena sang Ibu tahu bahwa kata-katanya yang terlontar kepada si anak (apalagi dalam keadaan marah) adalah juga merupakan doa yang akan mengiringi langkah sang anak dalam mengarungi kehidupannya kelak. Maka tak salah jika Ibunya Tobi menggunakan kata-kata dan bahasa yang terpilih dalam meluapkan amarahnya.

Seiring begulirnya waktu, apakah ini karena ’doa’ Ibunya Tobi tengah bekerja atau entahlah, Tobi Kecil yang mulai beranjak dewasa pun perlahan menjadi berubah perilaku dan tabiatnya. Tobi yang hampir setiap saat mendapat asupan kemarahan dari Bundanya ini, mulai merasa ’sepi’ karena tidak lagi mendengar si Ibu marah kepadanya. Malah Ibunya menjadi makin sayang kepadanya, sampai sekarang.

Ini cerita singkat tentang Tobi kecil…

Mantan anak band ibukota yang ’desertir’ ini memang paling dekat dengan sang Ibu.

Tobi adalah seorang family boy yang sekaligus penggemar aktivitas-aktivitas pemacu adrenalin. Badan tegapnya adalah resiko dari olahraga-olahraga ekstrim yang dia geluti. Tampang tidak mengecewakan, tergantung dari sudut dan kualitas cahaya darimana dia dipandang. Menjabat sebagai ketua geng sewaktu SMA, nama gengnya: ’The Bastards from Heaven’.

Tobi yang juga seorang eco-friendly dan cat person.

Disela-sela lagu ’Nightmare’-nya Avenged Sevenfold, sayup-sayup dia mendengar suara dari arah kamar mandi. Pintu dibanting, benda-benda berjatuhan, celana dilempar. Berikutnya suara geraman-seperti ’suara orang yang berusaha dengan sekuat tenaga’-untuk mengeluarkan sesuatu dari ’saluran pembuangan belakang’nya (bahasa Swedlandia-nya: ngeden).

Catatan:

(Ekspresi saat) ngeden adalah salah satu ekspresi wajah manusia yang paling jujur.

“Bocah itu sembelitnya kumat lagi…” Tobi bermonolog.

“Wid, keras ya?” teriak Tobi di dekat kamar mandi.

“I-iyo…Ngeggkh…” jawab Widi dalam ngeden-nya.

“Beli sekarung kripik bonggol pisang, Wid…Bagus buat wasir lu…” saran Tobi serius.

“Engeggk…ggitu yo? Ok, nuwun (terima kasih),” kata Widi.

Tobi kembali ke kamarnya.

Meletakkan cangkir kaleng kopinya, mengambil gelas kosong, mengisinya dengan air panas dicampur sedikit air dingin. Setelah mendapatkan air hangat sesuai yang diinginkannya, kemudian…mencelupkan jempol kaki kanannya yang cantengan. Penyakit klasik yang masih eksis di abad 21 ini. Penyakit berbahaya, tidak berkelas namun sesungguhnya tidak menular. Tobi terkena cantengan akut stadium 2! Jempol kakinya itu senantiasa mengeluarkan aroma busuk yang khas.

Ritual pencelupan ini atas anjuran seorang ahli cantenganology yaitu Ibu kosnya. Tobi telah mengidap penyakit ini selama hampir dua tahun. Cantengan menahun dan kumat-kumatan.

 

Drama…Drama…

Tiba-tiba…

-thiutz- (kentut kecil, low explosive)

“ERRRROOAARRRRRHH…!!!”

Awas! Kalau sudah terdengar erangan suara ini, pertanda sang monster hijau telah siuman dari hibernasi panjangnya di gua yang lembab dan gelap.

Alexei Gregorius Jukimovic Sinaga-(Danger-o-meter:«««««), nama Jepangnya: Hatsuharu Kawazoe ~’The Vigorous Spring Time on The Riverside’ (Musim Semi yang Bersemangat di Tepi Sungai). A.k.a Juki, berpostur Eropa khas bangsa Viking, warna kulit ebony Afrika-keling dove. Mantan kandidat anggota Bajak Laut Somalia ini seorang yang ekspresif dan temperamental. Dikedalaman tubuh sintalnya terkandung protein antagonis yang agresif. Bocah peranakan antara beruang dan kaleng yang arogan.

Juki yang lahir di tengah kepungan rimba Sumatra liar ini, di umur 10 tahunnya pernah meng-K.O.-kan seekor buaya rawa ketika sang buaya merebut kembang gula dari tangannya. Kisah berani yang masih melegenda hingga kini. Sebuah pertarungan yang meninggalkan segaris codet melintang di pipi kanannya.

Petualang ulung di dunia kuliner. Seorang carnivora sejati karena kegemarannya melahap daging. Juki yang bersifat destruktif kalau sedang lapar.

Juki melompat dari kasurnya. Melesat menuju kamar mandi.

**GABRUKK**

Terpeleset botol kecap. Jatuh.

”ROARRRRRH!” umpatnya.

Bangkit dan lari lagi.

**DHUEERR** **DHUEERR** **DHUEERRR**

Pintu kamar mandi dari kayu kolaborasi seng itu nyaris jebol oleh gedoran tangan besar Juki.

SAPOSE (siapa) DI DALEMAN (dalam)?!! CEPETAAAN, CYIN!!” teriak Juki tidak sabar dengan logat Tanah Karonya yang medhok dan bahasanya telah terkontaminasi bahasa banci itu. Bukan, Juki sama sekali bukan termasuk dalam golongan pria ngondek. Juki seorang lelaki yang sangat lelaki. Juki malah paling murka kalau ada yang bilang dia banci. Hanya saja, Juki merasa imut jika menggunakan bahasa mereka. Bahasa banci Juki ini akan ’off’ ketika bercakap dengan wanita.

-kecipak-kecipik- (suara Widi cebok).

”Yo, yo…sabbhar! Ta’ mandhi bhentar dhulu, dab!!” sahut Widi dengan logat Jawa akutnya.

”Ah, lambreta (lama)! Akika rempong (aku repot), Cyiin!! Nanti saza mandinya, ’pisang goreng’ aku sutra (sudah) nyampe uzung iniii…! Widi, kau keluar sekarang atau aku dobrak, nih!” ancam Juki.

Widi malah bernyanyi-nyanyi ditengah mandinya.

Sementara itu…

Dari kamar No. 7 yang pintunya tertutup, lirih terdengar suara orang mengaji.

Kareem Abdullah Omar Lee-(Danger-o-meter:««), nama Jepangnya: Yusuke Kawazoe ~’The Abundant Rule on The Riverside’(Aturan Yang Melimpah Ruah di Pinggir Sungai)(??). Bocah blasteran Arab-Cina-Purwokerto-ternyata masih terjaga sejak subuh tadi. Seorang anak manusia yang bergaya rambut ala Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad. Bermuka cerah dan adem, efek dari seringnya tersapu air wudhu. Hari-harinya senantiasa dekat dengan biji-biji tasbih.

Kebiasaan santri alumnus sebuah pondok pesantren yang di asuh oleh Syech Puji ini sehabis meng-imam-i salat jamaah subuh–mendengarkan ceramahnya alm. Ustadz Zainuddin MZ di radio—setelah itu mengaji Al Qur’an. Rutinitas dari seorang penasehat spiritual d’Camp yang paling disegani di d’Camp. Sekarang, suara empuknya tengah melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an.

Rupanya sedari tadi Tobi tidak menyadari akan hal ini. Tobi mengecilkan volume sonsistem-nya. Celupkan jempolnya dan seruput kopi lagi.

Sedangkan, tiga pemuda lainnya masih ’tewas’. Dengan suara ngorok-nya masing-masing, sahutan-sahutan seperti suara bekantan-bekantan birahi ketika musim kawin.

Abel vs Juki vs Widi

Kembali ke Juki vs Widi…

“WUIDII…!!!” jerit Juki dengan suara bass-nya ke Widi-memegangi perutnya.

Juki diantara kebelet-marah dan enek karena kupingnya mendengar lagu ‘Tali Kutang.mp3’-nya Cak Dhikin-sebuah campursari, dari dalam kamar Widi. Juki kurang respek terhadap campursari yang menurutnya berseberangan dengan karakter jiwanya.

Perasaan Juki kini seperti perasaan para narapidana super di penjara Alcatraz-San Fransisco, yang menggelinjang muak ketika diperdengarkan lagu ‘I am Beautiful’-nya Christina Aguilera sewaktu terjadi tawuran antar napi. Lagu ampuh itu yang bikin tawuran berhenti.

Juki masuk ke kamar Widi. Dengan kakinya yang kasar, menendang tombol off dari hom titer-nya Widi itu.

Tampak kelebatan seseorang yang masuk ke kamar Abel, orang itu adalah Pras. Pras diam-diam mengoleskan balsem panas ke telapak tangan Abel yang masih tidur.

Beberapa menit kemudian,

Abel yang setengah sadar memasukkan tangannya yang berbalsem itu ke balik celananya. Menggaruk-garuk sesuatu di sana, seperti kebiasaan yang selalu dilakukannya pra bangun tidur. Pras cekikikan melihatnya. Karena misinya sukses, Pras kembali mengendap-endap ke kamarnya sendiri.

Beberapa detik kemudian,

“F*AAKK, PANAAAASSSS…!!!” teriak Abel sambil melepas celananya. Dengan setengah telanjang dia berlari ke kamar mandi.

Bersamaan dengan itu, Juki kembali ke depan kamar mandi….

“Heh, mau apa kau, Bel?!” tanya sengit Juki ke Abel.

“Gua mau nyiram ‘junior’ gua! DEMI TUHAN INI PANASSS!!” rengek Abel sambil menunjuk benda yang dibekap oleh tangannya. Abel menangis dan meloncat-loncat karena spare part pipisnya itu terasa terbakar.

TINTA (tidak) BISA! Aku sutra mengantri sezak tadi! Sana, cari air kau sendiri!” Juki mengusir Abel mentah-mentah.

“BANGKEK lu, Juk!!” umpat Abel dan berlari ke depan, ke arah sumur tua.

Lalu terdengar suara siraman air dan suara jeritan beberapa wanita dari arah sumur tua.

Dikamarnya, Pras tertawa berguling-guling.

Di kamar yang lain, terdengar suara dengkuran Sukirman yang tertidur pulas.

Juki kembali menggedor pintu kamar mandi,

**DHER** **DHER**

”WIDI! Nyaris inih!!!” menggigit bibir-melompat-lompat kecil seperti balita beruk.

Pintu kamar mandi dibuka. Keluar Widi yang sudah kemben-an handuk merah mudanya.

Monggo (silahkan), Mas Juki.” Widi dengan halus mempersilahkan.

”Minggir! Zauh-zauh kau dari pantatku, Pinky!”

Wedhus! Nyuruh jauh-jauh dari pantat burikmu itu, memange aku homo opo?!…hikikik…” Widi meringkik misterius.

”Ahh, minggir kau!” Juki menarik handuk Widi agar menyingkir dari tengah pintu kamar mandi. Karena tarikan kuat, handuk terlepas dan Widi telanjang bulat.

”HAHAHA…” Juki tertawa geli.

Widi menyambar handuknya dan berlari ke kamarnya.

**JDERRR**

Juki menutup pintu kamar mandi dengan kasar. Juki mencopot dan melempar celananya.

Pertarungan

Dua detik kemudian,…

(Kaget) ”Alamakjang! Apa pula ini?!!” Juki mendelik.

”Sial!…Hsshh, tahan, tahan, tahaaan! Zangan keluar dulu ya, pliiisss…’gembok’ dulu ’pintu’-mu, oke?!!” Juki berbicara dengan bokongnya sendiri.

”HOOII, ZAWA! HABIS BUANG HAZAT TINTA KAU SIRAM, YA?!!…BEDEBAH KAU, WIDI! TOKAI (e’ek) KAU, WID-Iii-ouuhh, sabar, sabaaar, zangan dulu keluar… ’Kunci rapat’, ’kunci’!!” Juki dalam situasi yang sangat sulit. Menumpahkan amarahnya ke Widi dan bernegosiasi dengan pantatnya.

Lanjutnya, “…BEBERAPA POTONG MASIH MENGAMBANG INI!”

Lalu, gumamnya, “…Aku tak akan membiarkan kau menang kali ini, Widi.”

Teriak Juki, lagi, “…WIDI, AKU TAK AKAN SUDI UNTUK MENENGOK SEDIKITPUN KE ‘PISANG GORENG-PISANG GORENG’ KAU YANG ZELEK ITU! ZANGAN HARAP! …Sebentar aku hitung, 1, 2, …ZUMLAHNYA ADA 3 POTONG, WIDI!”

Gumamnya lagi, “Faakk, kenapa aku hitung?! Bodoh!” Juki meninju tembok kamar mandi.

“…WIDI, ‘PISANG GORENG’ KAU BEGITU PADAT DAN GOSONG-GOSONG, BRO! …SHIT! …Hei, ‘mereka’ melototi aku! Hiiyy! Cuih..!!” Juki meludah.

”Ayo Kamu Bisa, Juki!”

“Sial!! Aku tinta bisa! Aku tinta bisa begitu saza buang hazat di atas ‘pisang goreng’-nya orang lain! Rasanya…akan ‘ANEH’! Aku tinta akan bisa menungging dan berhazat dengan elegan. Aku harus mengusir ‘makhluk-makhluk zahara (jahat)’ ini dulu!” Juki menyeringai galak-berbicara berapi-api dengan bayangannya sendiri di cermin kamar mandi.

Adalah sah-sah saja jika di saat yang amat genting seperti ini, mengaca dulu di cermin dan ‘curhat’, terlebih tentang ‘si kuning’.

Demi alasan ‘keamanan’, Juki naik ke atas bak mandi. Juki akan menyiram si kuning dari ketinggian. Juki menggayung air,

-gabyurrr-

Karena kerasnya guyuran, malah satu si kuning terlempar keluar, menggelinding di lantai kamar mandi.

Juki muntah dan menangis.

Kasihan Juki, makin berat saja tugas yang diembannya. Kini, ‘menggiring’ si kuning untuk masuk ke ‘sarang’nya lagi.

Dengan berbagai cara, akhirnya Juki berhasil menyatukan si kuning yang ‘tersesat’ tadi kembali ke ‘teman-teman’nya.

Juki menyiram lagi.

-splosh-

Si kuning masih ‘melotot’.

Widi memang (sengaja) lupa menyiramnya.

Widi keluar kamarnya. Mengarahkan tertawa kerasnya ke arah kamar mandi dan berangkat kuliah dengan gembira ria. Balasan yang setimpal bagi Juki karena telah mengintimidasi Widi dan kali ini Widi menang.

Merem, menelan ludah, menahan napas, menahan ‘pisang goreng’-nya, Juki mengguyur ‘pisang goreng’ rekannya itu dengan sumpah serapah sambil menyeka air matanya.

-SPLOSH-SPLOSH-SPLOSH-

Guyuran besar. ’Makhluk-makhluk jahat’ ini pun telah secara resmi terusir. Yay!

Buru-buru Juki melompat ke ’pangkuan’ Toto, si septikteng.

Dan…

-brol-

Pfiuhh…

Juki menumpahkan ’uneg-uneg’ yang sedari tadi mati-matian ditahannya.

***

 

3

 

 

(Peristiwa)

 

 

 

 

Kutukan Yang Sukar Dihindari

Tidak dipungkiri, para personel d’Camp kru mempunyai kecenderungan negatif yang bertajuk sindrom ’Clumsynumatic’ a.k.a ’Kecerobohan Kronis’, dengan level yang berbeda-beda menurut kadar kesolehan yang dimilikinya.

Dan, kisah ini berawal…

Widi Guntoro Bagaskoro-(Danger-o-meter:«), nama Jepangnya: Kureno Fujiwara ~’The Crimson Plains with Wisteria Fields’ (Dataran Merah dengan Ladang-Ladang Bunga Wisteria). Pagi ini Widi tengah kuliah. Kuliah statistik di jurusan Teknik Sipil-nya. Mata kuliah yang membosankan, yang memaksa otaknya bekerja sangat keras untuk mencerna materi-materi.

-tengtengtengteng-

Widi girang bukan kepalang begitu lonceng tanda pulang dipukul. Keluar dari kampusnya dan berlari menuju pemberhentian bus. Anak seorang taipan bisnis burung walet di sebuah desa di Jawa Tengah ini berencana untuk shopping beberapa barang di Malioboro. Orang tuanya yang kaya raya memanjakannya dengan kiriman secara langsung sekarung uang lewat seorang kurir kepercayaan, setiap bulannya.

Widi seorang anak polos dan lugu. Di adalah anak yang di umur 15 tahun baru sadar bahwa manusia tidak ditetaskan dari telur…..

to be continue…


[1] Terinspirasi dari Camp Taliban

[2] Iya ‘kali

[3] Pasukan berani mati dari Nepal

[4]  Mengundang untuk di… colek

[5] Suka membanyol

[6] Sapaan khas Jogja

[7] Suara mouse

[8] Benda apakah yang  pertama dipegangnya? Silahkan intepretasikan sendiri J

[9] ???

[10] Canggih dan sopan


Silahkan tulis komen-komennya di bawah ini:
Makasih. 🙂

-rgds-

Advertisements

Image  —  Posted: March 7, 2011 in Uncategorized

Selamat datang saya…

Posted: February 27, 2011 in Uncategorized

Launching…

Assalamualaikum…

Walau telat, saya pun akhirnya mencemplungkan diri di kancah dunia per’blog’an ini…

Wassalamualaikum…

regards

Hello world!

Posted: February 27, 2011 in Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!